makalah komunikasi ABK

12 07 2009

FACTOR PSIKOLOGIS PENYEBAB GANGGUAN KOMUNIKASI

A. Retardasi Mental
1. Penyebab Retardasi Mental
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya (simpleks).keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak.4
Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
- Infeksi dan/atau intoksikasi.
Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.
- Rudapaksa dan atau sebab fisik lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental.
- Gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi.
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.
- Penyakit otak yang nyata (postnatal).
Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel optak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif.
- Penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas.
Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.
- Kelainan kromosom.
Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau dalam bentuknya.
- Prematuritas.
Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini.
- Gangguan jiwa yang berat.
Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.
- Deprivasi psikososial.
Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor biomedik maupun sosiobudaya.
2. Akibat Retardasi Mental Terhadap Kemampuan Komunikasi
Bila mungkin dilakukan juga pemeriksaan psikologik, bila perlu diperiksa juga di laboratorium, diadakan evaluasi pendengaran dan bicara
Wajah pasien dengan retardasi mental sangat mudah dikenali seperti hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah tampak tumpul.
3. Upaya Mengatasi Gangguan Komunikasi Pada Retardasi Mental
1) Latihan rumah: pelajaran-pelajaran mengenai makan sendiri, berpakaian sendiri, kebersihan badan.
2) Latihan sekolah: yang penting dalam hal ini ialah perkembangan social.
3) Latihan teknis: diberikan sesuai dengan minat, jenis kelamin dan kedudukan sosial.
4) Latihan moral: dari kecil anak harus diberitahukan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Agar ia mengerti maka tiap-tiap pelanggaran disiplin perlu disertai dengan hukuman dan tiap perbuatan yang baik perlu disertai hadiah.
5) Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan retardasi mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak.

B. Stuttering
1. Penyebab Stuttering
Gagap, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kelainan berbicara, dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat.
a. Fisiologis, yaitu kemungkinan berasal dari genetik (keturunan) orang tuanya, berupa ketidak sempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah, dll
b. Psikologis, yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, stress mental karena sesuatu yang dirasakan tidak dapat dilakukannya. Dapat juga disebabkan karena hubungan keluarga dan lingkungan yang kurang harmonis (ayah/ibu yang keras, sering bertengkar, pergaulan yang membuat tekanan-tekanan batin, dan hal-hal lain yang secara tidak sadar membuat diri seseorang tidak nyaman).
2. Akibat Stuttering Terhadap Kemampuan Komunikasi
Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, sampai dengan ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali.
Reaksi pada tubuh yang sering terjadi adalah, ketegangan yang terlihat saat berbicara yang dibarengi oleh gerakan-gerakan wajah, gerakan kaki, tangan, matam dll.
3. Upaya Mengatasi Gangguan Komunikasi Pada Stuttering
Untuk Gagap Perkembangan dan sebagian dari Gagap Sementara, masalah ini biasanya akan hilang dengan sendirinya, asal orang tuanya dapat memberikan suasana yang mendukung,
• Tenang dan acuhkan saja, dan kemudian berbicara sabar dengan sang anak, dengan memberikan contoh berbicara dengan pelan dan tenang.
• Berikan contoh latihan mengatur nafas dan kontol emosi. Dengan cara ini anak akan meniru contoh orang tua. Ajak sang anak untuk sama-sama membaca buku cerita yang disukainya pelan-pelan dan dengan sentuhan-sentuhan kecil di bahu dan tangan agar nyaman.
• Berikan pujian, jangan dimarahi. Pujian ini adalah motivasi secara tidak langsung, yang membuat sang anak lebih bersemangat untuk berbicara. Jangan sekali-kali mengolok-olok keadaan ini, yang justru akan memperparah keadaan.

C. Selektif Mutism
1. Penyebab Selektif Mutism
Mutism berasal dari bahasa Latin “Mutus” yang berarti “membisu”. Istilah ini awalnya ditemukan dalam literatur medis khusus tentang perkembangan bicara, yang mengemukakan “fenomena tidak mau bicara”. Secara ilmiah, mutism itu suatu pertanda kebisuan pada manusia, meskipun organ pendengaran maupun organ bicaranya normal. Kondisi ini bersifat khas pada anak-anak dan jarang terjadi, dengan gejala tak mau bicara pada situasi tertentu. Anak-anak yang mutism bisa berbicara dengan lancar saat di rumah, tetapi pada situasi tertentu seperti di sekolah dia tidak mau berbicara. Hal inilah yang disebut mutism selektif.
Anak mutism biasanya tidak mau berbicara di tempat-tempat tertentu, seperti sekolah. Dia juga tidak suka membicarakan hal yang ada hubungannya dengan fungsi sekolah atau kegiatan sosial lainnya. Perlu diketahui juga bahwa mutism tidak disebabkan karena gangguan komunikasi akibat irama kelancaran (seperti gagap) dan tidak disebabkan gangguan bicara karena gangguan mental (seperti autism). Kondisi mutism ini dapat menetap selama lebih dari satu bulan.
Mutism harus dibedakan dari autism atau gangguan mental lainnya. Syarat mutism adalah si anak tadinya sudah bisa bicara kemudian mogok bicara. “Kalau memang dari tadinya si anak tidak bisa bicara, maka itu tidak bisa dikategorikan mutism. Jadi sebelumnya si anak sudah bisa bicara kemudian karena suatu sebab dia tidak mau bicara atau hanya bicara pada orang-orang tertentu saja.
2. Akibat Selektif Mutism Terhadap Kemampuan Komunikasi
Kasus mutism rata-rata ditemukan pada anak usia 3-8 tahun. Pada kasus selektif mutism anak-anak, mereka mengalami ketakutan berlebih terhadap interaksi sosial di sekolah, taman latihan bermain, dan bersosialisasi. Anak dengan selektif mutism juga menjadi sangat cemas bila berbicara. Ketika anak tak ada respon, dia mengalami tekanan dan timbullah kecemasan. Selain itu, mereka biasanya sangat pemalu, dengan gejala-gejala seperti pendiam, wajah datar tanpa ekspresi dan tak ada senyum.
3. Upaya Mengatasi Gangguan Komunikasi Pada Selektif Mutism
Tidak beda jauh dengan gangguan komunikasi stuttering, anak memerlukan pendekatan dari orangtua serta perhatian dan juga latihan komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA

www.nsknugroho.com/Hipnoterapi-Orang-GAGAP.html – 60k -
www.acehforum.or.id/mutism-bukan-sekedar-t21466.html – 56k -
puterakembara.org/rm/speech.shtml – 70k –
www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=10328 – 129k -
rahmi khalida/83043/2007


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.